Seorang eksekutif sedang menunggu di depan pintu surga menunggu giliran untuk di wawancara. Setelah sekian lama menunggu akhrnya tibalah gilirannya untuk di wawancara Siapa anda?? tanya malaikat penjaga pintu surga. Dengan penuh percaya diri sang eksekutif menjawab saya profesional yang sangat berhasil. Saya pernah menjadi direktur perusahaan multinasional.?
Aku tidak menanyakan pekerjaanmu, tetapi engkau itu siapa?? kata malaikat. Eksekutif itu menjawab dengan sedikit tergagap, Sa?sa?saya adalah ayah dari dua anak, dan suami dari seorang istri.? Malaikat berkata, ?Aku tidak menanyakan engkau ayahnya siapa, atau suaminya siapa. Yang aku tanyakan, engkau itu siapa??
Ia menyebutkan agamanya. Namun, malaikat menukas, ?Aku tidak menanyakan agamamu, tetapi engkau itu siapa?? Tambah bingung, ia menjawab, ?Saya ini orang yang taat beribadah. Saya juga selalu membantu fakir miskin dan anak-anak telantar.? ?Aku tidak menanyakan perbuatanmu, tetapi siapakah engkau,? malaikat menegaskan.
Wajah si eksekutif pucat pasi. Ia tahu, kegagalannya menjawab pertanyaan akan membuatnya ditolak masuk surga. Padahal, selama hidupnya ia tak pernah memikirkan hal ini. Ia baru sadar bahwa satu-satunya pertanyaan terpenting dalam hidup adalah, Siapakah sebenarnya saya??,--- Bukankah dengan mengenal diri sendiri kitapun akan lebih mengenali Tuhan?
Siapakah sebenarnya saya?, sebuah pertanyaan yg mungkin layak sahabat pertanyakan pada diri sendiri. Memang untuk mengenal diri sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah, anda harus bersiap untuk melakukan perjalanan panjang dan berliku untuk bisa masuk dalam diri sendiri .
Mumpung masih di bulan ramdhan ini saya ingin mengajak sahabat mencoba untuk mulai mengenali diri sendiri dengan jalan berdialog dengan diri sendiri--bukan bicara seperti orang gila, melainkan berdialog dengan penuh kesadaran dengan “yang di dalam”. Dengan berdialog dengan diri sendiri kita akan lebih mengenalnya dan mengakrabinya.
Layaknya berdialog dengan seseorang, kita harus siap untuk mendengarakan dan memperhatikan. Demikian pula dengan diri sendiri, kita hanya mungkin membuka dialog dengan diri sendiri bilamana kita mau dan mampu memperhatikan dan mendengarkan yang di dalam,-- yaa...diri kita sendiri. Kita tidak harus menjadi manut-manut saja padanya atau menuruti semua kehendaknya, melainkan cobalah perhatikan, amati dengan seksama, dengarkan dia dengan baik, dan —bilamana kita pandang perlu— tanyai dia dengan kritis.
Memang untuk bisa memperhatikan dan mendengarkan “yang di dalam” akan terasa berat karena kebiasaan kita yang senantiasa mengarahkan perhatian keluar sana. Kemampuan mengarahkan perhatian ke dalam, adalah modal dasar kita disini. Ini merupakan jurus kuncinya. Kendati sebetulnya ruang di dalam itu tanpa kunci, bahkan tanpa pintu dan senantiasa terbuka-lebar bagi kita. Namun pada fase-fase awalnya, dan karena kebiasaan kita sendiri, kita membutuhkan kunci untuk memasukinya. Dan kuncinya adalah, kemampuan untuk mengarahkan perhatian ke dalam. Sekali kita mempunyai kunci itu, dan berhasil mengadakan kontak langsung dengan yang di dalam, kita tak membutuhkan kunci itu lagi karena ia akan terbuka lebar-lebar bagi kita.
