9/24/2007

Berdialog dengan diri sendiri

Seorang eksekutif sedang menunggu di depan pintu surga menunggu giliran untuk di wawancara. Setelah sekian lama menunggu akhrnya tibalah gilirannya untuk di wawancara

Siapa anda?? tanya malaikat penjaga pintu surga. Dengan penuh percaya diri sang eksekutif menjawab saya profesional yang sangat berhasil. Saya pernah menjadi direktur perusahaan multinasional.?

Aku tidak menanyakan pekerjaanmu, tetapi engkau itu siapa?? kata malaikat. Eksekutif itu menjawab dengan sedikit tergagap, Sa?sa?saya adalah ayah dari dua anak, dan suami dari seorang istri.? Malaikat berkata, ?Aku tidak menanyakan engkau ayahnya siapa, atau suaminya siapa. Yang aku tanyakan, engkau itu siapa??

Ia menyebutkan agamanya. Namun, malaikat menukas, ?Aku tidak menanyakan agamamu, tetapi engkau itu siapa?? Tambah bingung, ia menjawab, ?Saya ini orang yang taat beribadah. Saya juga selalu membantu fakir miskin dan anak-anak telantar.? ?Aku tidak menanyakan perbuatanmu, tetapi siapakah engkau,? malaikat menegaskan.

Wajah si eksekutif pucat pasi. Ia tahu, kegagalannya menjawab pertanyaan akan membuatnya ditolak masuk surga. Padahal, selama hidupnya ia tak pernah memikirkan hal ini. Ia baru sadar bahwa satu-satunya pertanyaan terpenting dalam hidup adalah, Siapakah sebenarnya saya??,--- Bukankah dengan mengenal diri sendiri kitapun akan lebih mengenali Tuhan?

Siapakah sebenarnya saya?, sebuah pertanyaan yg mungkin layak sahabat pertanyakan pada diri sendiri. Memang untuk mengenal diri sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah, anda harus bersiap untuk melakukan perjalanan panjang dan berliku untuk bisa masuk dalam diri sendiri .
Mumpung masih di bulan ramdhan ini saya ingin mengajak sahabat mencoba untuk mulai mengenali diri sendiri dengan jalan berdialog dengan diri sendiri--bukan bicara seperti orang gila, melainkan berdialog dengan penuh kesadaran dengan “yang di dalam”. Dengan berdialog dengan diri sendiri kita akan lebih mengenalnya dan mengakrabinya.

Layaknya berdialog dengan seseorang, kita harus siap untuk mendengarakan dan memperhatikan. Demikian pula dengan diri sendiri, kita hanya mungkin membuka dialog dengan diri sendiri bilamana kita mau dan mampu memperhatikan dan mendengarkan yang di dalam,-- yaa...diri kita sendiri. Kita tidak harus menjadi manut-manut saja padanya atau menuruti semua kehendaknya, melainkan cobalah perhatikan, amati dengan seksama, dengarkan dia dengan baik, dan —bilamana kita pandang perlu— tanyai dia dengan kritis.

Memang untuk bisa memperhatikan dan mendengarkan “yang di dalam” akan terasa berat karena kebiasaan kita yang senantiasa mengarahkan perhatian keluar sana. Kemampuan mengarahkan perhatian ke dalam, adalah modal dasar kita disini. Ini merupakan jurus kuncinya. Kendati sebetulnya ruang di dalam itu tanpa kunci, bahkan tanpa pintu dan senantiasa terbuka-lebar bagi kita. Namun pada fase-fase awalnya, dan karena kebiasaan kita sendiri, kita membutuhkan kunci untuk memasukinya. Dan kuncinya adalah, kemampuan untuk mengarahkan perhatian ke dalam. Sekali kita mempunyai kunci itu, dan berhasil mengadakan kontak langsung dengan yang di dalam, kita tak membutuhkan kunci itu lagi karena ia akan terbuka lebar-lebar bagi kita.

9/15/2007

Empat Istri Kehidupan

Alkisah seorang kaya raya yang baik hati dan memiliki empat isteri. Di suatu pagi orang kaya tadi didatangi oleh sang kematian. Dengan sopan mahluk terakhir berucap begini : Bapak yang baik hati, atas utusan Tuhan kami ditugaskan untuk menjemput. Cuman, karena kebaikan hati Bapak selama hidup, diizinkan oleh Tuhan untuk membawa satu di antara empat isteri Bapak. Dengan tersenyum orang kaya ini memohon waktu untuk menemui keempat isterinya satu persatu.

Yang pertama dipanggil tentu saja isteri keempat. Seorang wanita muda yang cantik, dengan tubuh yang menawan, rambut panjang yang terurai dan tentu saja senyumnya yang indah dan manis. Namun, betapa terkejutnya orang kaya tadi mendengar jawaban terhadap ajakan untuk menemani suaminya ke dunia kematian. Wanita cantik tadi menolak ajakan suaminya dengan kata-kata kasar dan sarkastis.

Setelah menangis sambil menyesali hidupnya, orang kaya tadi memanggil isteri ketiga dengan ajakan yang sama. Wanita ini menjawab dengan bahasa yang lebih sopan : maafkan kanda, saya hanya bisa menemani kanda sampai di sini saja. Kalau tadi seperti diterjang petir rasanya, kali ini Bapak kaya tadi seperti dihempas air bah. Lagi-lagi ia menangis menyesali seluruh hidupnya. Dengan semangat hampir putus asa, ia menemui isteri kedua dan mengemukakan ajakan yang sama. Isteri kedua menjawab lebih sopan lagi : Saya akan temani kanda, namun hanya sampai di liang lahat. Sehingga tidak ada pilihan lain kecuali memanggil isteri pertama. Dan takjubnya, kendati isteri pertama tidak terlalu diperhatikan, jarang diajak makan, bahkan sering disakiti, dengan tersenyum wanita yang pipinya sudah penyok dan merah-merah ini menjawab begini : saya akan menemani kanda sampai kapanpun dan sampai di manapun.

Ilustrasi tentang empat isteri di atas, sebenarnya ilustrasi tentang isteri/suami kehidupan. Semua orang memiliki empat isteri (suami) kehidupan. Isteri keempat yang paling seksi, paling menarik, menghabiskan paling banyak waktu, sehari-hari bernama harta dan tahta. Ia memang sejenis isteri yang menyita paling banyak waktu dan tenaga dalam hidup. Dalam kehidupan banyak orang, lebih dari separuh waktu dan tenaga teralokasi ke sini. Dan sebagaimana cerita di atas, siapa saja yang memperuntukkan waktu dan tenaga hanya untuk harta dan tahta, pasti menyesali kehidupannya di gerbang kematian.

Isteri ketiga yang juga mengkonsumsi waktu dan tenaga cukup banyak bernama tubuh atau badan kasar. Ini juga menghabiskan uang yang tidak sedikit. Dan jangan lupa, isteri yang ini hanya bisa menghantar kita sampai di tempat dan waktu di mana kita dipanggil sang kematian. Setelah itu, ia kita kembalikan ke pihak yang meminjamkan badan ini. Isteri kedua yang hanya bisa menghantar kita sampai di liang lahat adalah isteri, suami, putera-puteri serta kerabat dekat kita di rumah. Sesetia-setianya mereka, hanya akan bisa menemani kita sampai di kuburan saja. Setelah itu, mereka hanya menangis sambil kembali ke kehidupan masing-masing.

Dan isteri kita yang paling setia dan akan menemani kita kemanapun kita pergi, dan apapun yang kita lakukan terhadapnya ia hanya mengenal kesetiaan, kesetiaan dan kesetiaan, ia bernama sang jiwa. Atau, dalam sejumlah tradisi disebut dengan kata kesejatian.

Sayangnya, kendati ia yang paling setia, dalam keseharian ia juga yang paling jarang kita perhatikan. Dalam banyak kehidupan, ia malah kerap disakiti. Kebencian, kemarahan, permusuhan dan sejenisnya adalah serangkaian kegiatan yang memukuli sang jiwa. Kalau isteri kedua (badan kasar) kita beri makan setiap hari, kita hanya memberi makanan sang jiwa sekali-sekali saja. Ada bahkan yang tidak pernah memberikan makanan pada jiwanya. Dan kalau makanan badan kasar kita harus beli dan membayarnya, makanan sang jiwa dalam bentuk cinta, cinta dan cinta, ia tersedia gratis dalam jumlah yang tidak terbatas.

9/06/2007

Bulan untuk berbagi

Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang di muliakan oleh kaum muslimin karena semua amal ibadah kita di lipat gandakan. Banyak pesan ataupun hikmah yang bisa di ambil di bulan yang mulia ini. Salah satu pesan yakni pesan untuk berbagi.

Ramadhan memang serat dengan pesan untuk berbagi. Dompet dhuafa dan zakat dikumandangkan di mana mana. Berbagi berkat bagi yang merana dan papa dengan bingkisan beras, minyak dan mi instan. Ada pula yang dengan tangan terbuka mengajak kaum yatim piatu berbahagia di bulan yang khusus itu dengan berbuka puasa bersama. Ada pula yang justru mendatangi mereka, membagi hadiah dan berusaha meleburkan diri dalam kegiatan mereka. Ada pula yang membagi berkat dengan mentransfer sejumlah dana ke banyak rekening peduli kasih yang sudah jamak di media masa.

Kala bulan itu tiba, si miskin pun merasakan sentuhan kasih yang kaya. Golongan yang di pinggirkan merasa mendapat tempat di tengahan. Yang biasa di bentak-bentak mendadak mendapat belaian kasih.

Selamat datang Ramadhan!

9/04/2007

Kampanye: Jangan Bugil di depan kamera..!

Hampir setiap hari video porno baru diproduksi secara ilegal oleh anak muda indonesia dan hampir sebagian besar telah beredar melalui internet dan telpon genggam. Demikian hasil peneltian yang di lakukan oleh Sony Set penulis buku “500 pus, gelombang video porno Indonesia”. Menurutnya saat ini telah beredar lebih dari 500 judul buatan local dan 90% di buat oleh anak muda Indonesia.

Tidak dapat di pungkiri lagi, di masa sekarang, ada keprihatinan yang mendalam di balik fenomena seperti ini. Sebagai wujud kepedulian dari kondisi seperti ini, Sony Set bersama rekan melakukan kampanye bertajuk “Anak muda Indonesia jangan bugil di depan kamera..!!!”

Memang tidak mudah untuk menghentikan atau mengurangi peredaran dan pembuatan film porno amatir buatan anak bangsa. Namun bisa jadi gerakan moral ini merupakan salah satu alternatif yang patut untuk kita coba. Sebagai langkah awal dari kegiatan moral ini anda bisa mengajak teman dekat, sahabat, saudara, atau siapapun untuk berjanji agar tidak bugil di depan kamera.


Stop penyebaran dan pembuatan cuplikan film porno Indonesia. Selamatkan Generasi kita. Selamatkan Anak Muda Indonesia!


Sumber: http://www.janganbugildepankamera.org/
Sumber gambar: http://www.janganbugildepankamera.org/