Mohon maaf lahir batin. Kalimat indah yang di ucapkan tiap tahunnya pada Hari Raya Idul Fitri. Dan jawaban yang di terimapun sama indahnya: sama-sama, maaf lahir batin juga yaa….!! Hari Raya Idul Fitri memang hari yang sangat indah, bukan hanya karena di hari itu kita dapat menikmati ketupat lengkap dengan dagingnya melainkan pada hari itu kita akan memulai hari kita dengan hati yang bersih karena sudah saling memafkan bukan hanya lahir tapi mencakup aspek yg lebih dalam yakni batin.
Memaafkan kesalahan, kekhilafan dan pelanggaran secara lahir dan batin artinya melupakan semua dan tidak ada bekas menempel yang bisa diungkap kembali. Sebab, melupakan berarti membuang jauh dan bukan menyimpan dalam lemari arsip di hati kita. Kalau ada di arsip, bagaikan buku di perpustakaan hati kita, suatu saat bila kesalahan terulang akan muncul luka lama diungkapkan kembali. Karena, tidak dibuang, melainkan hanya disimpan walau dengan sangat rapi. Tidak heran ada ungkapan: To forgive is to forget. Buanglah jauh sejauh barat dari timur. Cuci bersih dari warna merah kirmizi menjadi putih seperti salju. Hasilnya, tidak ada arsip kotor di hati yang bersih.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Saya kan hanya seorang manusia dengan daging dan darah yang sering menuding dan penuh amarah?, sulit dan mustahil saya bisa memaafkan lahir dan batin. Kendati begitu, banyak pula orang yang dapat mengatakan: Sulit memang, tapi bukan berarti tidak mungkin. Ada harga yang harus dibayar. Dan harganya adalah pada diri kita sendiri bukan pada orang yang menyakiti kita. Maukah kita tersiksa karena tidak memaafkan yang dari kni ng lebih dartinya menyimpan virus kotor dalam hati kita? Tidak memaafkan orang akan memperburuk hubungan kita dengan orang itu, dan hubungan kita dengan Tuhan Sang Pencipta batin. Karena, virus kotor di batin akan mengganggu hubungan kita dengan Tuhan tatkala kita berdoa. Apalagi kalau kita mau minta ampun pada Ilahi, Dia akan tersenyum dan berkata: ?Jika engkau tidak mau mengampuni orang lain, kamu pun tidak akan diampuni.
Memaafkan bukan hanya secara lahir dan pikiran, tapi sudah masuk ke arena batin, sebuah ruang lingkup spiritual. Change of heart, bukan hanya memaafkan dalam arti mengubah perilaku lahir kita menjadi tidak memusuhi, atau membuang pikiran negatif dalam arsip perasaan. Melainkan, justru mempunyai sikap yang ingin membuat hubungan lebih dekat. Sebuah upaya dari musuh menjadi sahabat. Dari bukan hanya melupakan tapi mengasihi agar dia dapat berbuat lebih baik. Dari yang jauh menjadi dekat. Ini bukan hanya menuntut sikap moral, tapi menuntut sikap spiritual yang tinggi. Bukan hanya memaafkan, tapi mengampuni dan memintakan ampun dari Tuhan Yang Maha Esa dengan doa yang tulus: Tuhan, ampunilah dia karena dia tidak mengerti apa yang telah diperbuat. Dan buatlah saya mampu mengasihi dia seperti Engkau mengasihi dia. Jadikan saya saluran kasih-Mu. Mengampuni dan tetap mengampuni walaupun dia nanti akan berbuat kesalahan lagi. Sampai kapan? Tujuh puluh kali tujuh yang artinya tidak ada batasan selama kita juga masih mau dimaafkan dan diampuni oleh Tuhan Sang Pencipta. Sampai tahap ini saya kira kita akan melihat keindahan dan kejernihan tatkala kita dengan tulus mengucapkan ?maaf lahir dan batin? (sambil bergumam: Sudah saya maafkan kesalahan Anda dalam lahir dan batin saya lebih dulu). Kita sudah memulai sebelum yang lain meminta. Kalau sudah begini, segala bentuk kesombongan dan arogansi akan runtuh. Sebuah rekonsiliasi batin dan spiritual, membangun manusia seutuhnya akan terwujud. Selamat Lebaran, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.
Memaafkan kesalahan, kekhilafan dan pelanggaran secara lahir dan batin artinya melupakan semua dan tidak ada bekas menempel yang bisa diungkap kembali. Sebab, melupakan berarti membuang jauh dan bukan menyimpan dalam lemari arsip di hati kita. Kalau ada di arsip, bagaikan buku di perpustakaan hati kita, suatu saat bila kesalahan terulang akan muncul luka lama diungkapkan kembali. Karena, tidak dibuang, melainkan hanya disimpan walau dengan sangat rapi. Tidak heran ada ungkapan: To forgive is to forget. Buanglah jauh sejauh barat dari timur. Cuci bersih dari warna merah kirmizi menjadi putih seperti salju. Hasilnya, tidak ada arsip kotor di hati yang bersih.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Saya kan hanya seorang manusia dengan daging dan darah yang sering menuding dan penuh amarah?, sulit dan mustahil saya bisa memaafkan lahir dan batin. Kendati begitu, banyak pula orang yang dapat mengatakan: Sulit memang, tapi bukan berarti tidak mungkin. Ada harga yang harus dibayar. Dan harganya adalah pada diri kita sendiri bukan pada orang yang menyakiti kita. Maukah kita tersiksa karena tidak memaafkan yang dari kni ng lebih dartinya menyimpan virus kotor dalam hati kita? Tidak memaafkan orang akan memperburuk hubungan kita dengan orang itu, dan hubungan kita dengan Tuhan Sang Pencipta batin. Karena, virus kotor di batin akan mengganggu hubungan kita dengan Tuhan tatkala kita berdoa. Apalagi kalau kita mau minta ampun pada Ilahi, Dia akan tersenyum dan berkata: ?Jika engkau tidak mau mengampuni orang lain, kamu pun tidak akan diampuni.
Memaafkan bukan hanya secara lahir dan pikiran, tapi sudah masuk ke arena batin, sebuah ruang lingkup spiritual. Change of heart, bukan hanya memaafkan dalam arti mengubah perilaku lahir kita menjadi tidak memusuhi, atau membuang pikiran negatif dalam arsip perasaan. Melainkan, justru mempunyai sikap yang ingin membuat hubungan lebih dekat. Sebuah upaya dari musuh menjadi sahabat. Dari bukan hanya melupakan tapi mengasihi agar dia dapat berbuat lebih baik. Dari yang jauh menjadi dekat. Ini bukan hanya menuntut sikap moral, tapi menuntut sikap spiritual yang tinggi. Bukan hanya memaafkan, tapi mengampuni dan memintakan ampun dari Tuhan Yang Maha Esa dengan doa yang tulus: Tuhan, ampunilah dia karena dia tidak mengerti apa yang telah diperbuat. Dan buatlah saya mampu mengasihi dia seperti Engkau mengasihi dia. Jadikan saya saluran kasih-Mu. Mengampuni dan tetap mengampuni walaupun dia nanti akan berbuat kesalahan lagi. Sampai kapan? Tujuh puluh kali tujuh yang artinya tidak ada batasan selama kita juga masih mau dimaafkan dan diampuni oleh Tuhan Sang Pencipta. Sampai tahap ini saya kira kita akan melihat keindahan dan kejernihan tatkala kita dengan tulus mengucapkan ?maaf lahir dan batin? (sambil bergumam: Sudah saya maafkan kesalahan Anda dalam lahir dan batin saya lebih dulu). Kita sudah memulai sebelum yang lain meminta. Kalau sudah begini, segala bentuk kesombongan dan arogansi akan runtuh. Sebuah rekonsiliasi batin dan spiritual, membangun manusia seutuhnya akan terwujud. Selamat Lebaran, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.