12/23/2007

Mahluk Bernama Sahabat

Tak pernah malas…persoalan yang datang hantam kita….dan kita tak mungkin untuk menghindar…semuanya sudah suratan”, kata bang iwan dalam salah satu syairnya lagu satu.

Yang namanya persoalan/ kesulitan memang seperti itu.Tidak memilih jenis kelamin, kebangsaan, warna kulit, apalagi agama, kesulitan senantiasa berkunjung. Entah itu siang atau malam, kalau memang sudah saatnya berkunjung, tak satu doa pun bisa menghalanginya. Begitu datang, ya datang.

Namun ketika kesulitan sudah datang berkunjung dan membuat goresan luka disana sini, ada mahluk yang amat berguna dan amat di butuhkan untuk bisa mengobati luka-luka yang dibuat oleh kesulitan, ia bernama sahabat. Memang tidak semua sahabat mampu memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaanya untuk mendengar, sinar mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, sehabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan seperti ini.

Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati.

Dalam dunia persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah di beri. Bahkan, setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya. Bercermin dari kenyataan inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak.


12/05/2007

Hari Nasional Pribadi

Di awal bulan desember tahun ini, saya di hadang oleh sebuah kenyataan betapa cepatnya sang waktu berputar dan berlalu, tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Di bulan desember ini atau tepatnya 6 desember 2007, Tuhan memperkenankan saya menjalani hidup dan mensyukuri karunia-Nya selama 25 tahun.

Bagi saya, ulang tahun bukan sekedar tanda usia bertambah satu tahun. Ulang tahun sejatinya adalah anugrah Tuhan. Dianugerahkan-Nya bonus usia tanpa kita minta. Dan tanpa diminta-Nya pula, kita terpanggil untuk mensyukurinya. Dengan hati, dengan iman. Melalui pikiran dan perbuatan.

Musikus Ebiet G. Ade pernah berkata dalam salah satu syairnya yang berjudul “Masih Ada Waktu”. Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu, Entah sampai kapan, tak ada yang bakal dapat menghitung ,Hanya atas kasihNya, hanya atas kehendakNya, Kita masih bertemu matahari.

Terinsirasi dari pemikiran Ebiet dan melalui momentum ultah inilah, saya mencoba mendidik diri untuk lebih banyak bersujud, dan mengisi hidup ini kebaikan dan cinta kasih.

Melalui blog, dengan tulus saya mengucapkan terima kasih kepada para pegunjung blog ini, dan kepada para sahabat, baik yang sudah maupun yang barangkali belum tahu atau lupa memberikan ucapan selamat berkenaan dengan “hari nasional pribadi” saya. ;-)