12/23/2007

Mahluk Bernama Sahabat

Tak pernah malas…persoalan yang datang hantam kita….dan kita tak mungkin untuk menghindar…semuanya sudah suratan”, kata bang iwan dalam salah satu syairnya lagu satu.

Yang namanya persoalan/ kesulitan memang seperti itu.Tidak memilih jenis kelamin, kebangsaan, warna kulit, apalagi agama, kesulitan senantiasa berkunjung. Entah itu siang atau malam, kalau memang sudah saatnya berkunjung, tak satu doa pun bisa menghalanginya. Begitu datang, ya datang.

Namun ketika kesulitan sudah datang berkunjung dan membuat goresan luka disana sini, ada mahluk yang amat berguna dan amat di butuhkan untuk bisa mengobati luka-luka yang dibuat oleh kesulitan, ia bernama sahabat. Memang tidak semua sahabat mampu memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaanya untuk mendengar, sinar mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, sehabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan seperti ini.

Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati.

Dalam dunia persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah di beri. Bahkan, setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya. Bercermin dari kenyataan inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak.


12/05/2007

Hari Nasional Pribadi

Di awal bulan desember tahun ini, saya di hadang oleh sebuah kenyataan betapa cepatnya sang waktu berputar dan berlalu, tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Di bulan desember ini atau tepatnya 6 desember 2007, Tuhan memperkenankan saya menjalani hidup dan mensyukuri karunia-Nya selama 25 tahun.

Bagi saya, ulang tahun bukan sekedar tanda usia bertambah satu tahun. Ulang tahun sejatinya adalah anugrah Tuhan. Dianugerahkan-Nya bonus usia tanpa kita minta. Dan tanpa diminta-Nya pula, kita terpanggil untuk mensyukurinya. Dengan hati, dengan iman. Melalui pikiran dan perbuatan.

Musikus Ebiet G. Ade pernah berkata dalam salah satu syairnya yang berjudul “Masih Ada Waktu”. Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu, Entah sampai kapan, tak ada yang bakal dapat menghitung ,Hanya atas kasihNya, hanya atas kehendakNya, Kita masih bertemu matahari.

Terinsirasi dari pemikiran Ebiet dan melalui momentum ultah inilah, saya mencoba mendidik diri untuk lebih banyak bersujud, dan mengisi hidup ini kebaikan dan cinta kasih.

Melalui blog, dengan tulus saya mengucapkan terima kasih kepada para pegunjung blog ini, dan kepada para sahabat, baik yang sudah maupun yang barangkali belum tahu atau lupa memberikan ucapan selamat berkenaan dengan “hari nasional pribadi” saya. ;-)

11/12/2007

Air Terjun Seribu Janji

Dari tempat parkir kendaraan, suara gemuruh sudah jelas terdengar. Keheningan kawasan pedesaan Malino memperkeras suara yang datang. Gemuruh tersebut berasal dari Air Terjun Seribu Janji. Air terjun ini berlokasi di Malino, SUL-SEL.

Pertama kali memasuki kawasan ini, yang ada hanya keindahan, keteduhan dan ketentraman. Nuansa seperti inilah yang banyak di rindukan oleh sabahagian sahabat kejernihan yang berharap segera bertemu dan bersatu dengan roh dan alam kedamaian.

Di dunia yang berciri serba keras, hiruk pikuk, dan ketergesaan mengejar dan dikejar waktu menjauhkan nurani manusia untuk berkencan dengan kesunyian dan keheningan, serta memaknai hakikatnya. Melihat dan mendengarkan karya Tuhan lewat alam mengilhami bahkan mendorong kita mewujudkan kearifan dalam hidup yang serba riuh ciptaan kita sendiri. Mengheningkan hati yang hening lewat nyanyian alam merupakan tindakan yang sungguh membahagiakan. --


Koleksi foto-foto:








11/07/2007

Senyum...!!, Bikin hidup lebih bermakna

Hari-hari belakangan ini kesesakan hidup terasa semakin menghimpit sebagian besar rakyat Negara tercinta, Indonesia. Bencana alam, musibah (yang tak jarang merupakan hasil perbuatan sendiri), kemiskinan, pengangguran yang tak kunjung teratasi, dan yang paling memprihatinkan adalah pudarnya rasa peduli (loving care) kepada sesama. Hal inilah yang membuat wajah manusia Indonesia menampilkan ungkapan hati yang terbebani, murung, mudah marah, stress dan frustasi. Yang seolah-olah hidup ini tiada lagi dapat di nikmati.

Dalam kondisi seperti itu, apa yang layak dan masih bisa kita lakukan?. Kita bisa memahami dan menerapkan kearifan yang sejatinya tak sulit kita praktikkan.Saya jadi teringat sebuah syair yang pernah di bawakan Dewa, “Hadapi dengan senyuman , semua yang terjadi biarlah terjadi”.Sunyum...!!, inilah salah satu harta yang di berikan Tuhan kepada manusia untuk di bagikan. Dikatakan demikian, karena senyum adalah kunci pembuka pintu dunia yang membuat manusia mampu berbagi rasa suka dan juga sedikit duka, serta panggilan batin untuk menebar sikap saling memberi perhatian. Dengan Seyum kita bisa mengubah banyak hal. Benci jadi rindu, sedih jadi gembira, suasana yang tadinya kaku menjadi cair, dan yang paling penting memulihkan love and care yang sempat hilang.Dengan senyum kita mampu melihat sisi lain yang lebih indah dari hidup, manakala kita di rundung kesulitan, atau menjadi sasaran tembak yang di lancarkan orang lain.

Seorang sahabat pernah mengungkapkan "sekali kita dapat tersenyum, kita pun dapat hidup". Dengan senyum, kita mampu memaknai bahwa hidup ini memiliki nilai yang layak kita nikmati dan syukuri. Dengan senyum, kehidupan tidak lagi sebuah hal yang membebani. Yang diperlukan adalah niat dan hati yang tulus untuk berbagi rasa suka kepada orang-orang lewat senyuman.--


10/13/2007

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mohon maaf lahir batin. Kalimat indah yang di ucapkan tiap tahunnya pada Hari Raya Idul Fitri. Dan jawaban yang di terimapun sama indahnya: sama-sama, maaf lahir batin juga yaa….!! Hari Raya Idul Fitri memang hari yang sangat indah, bukan hanya karena di hari itu kita dapat menikmati ketupat lengkap dengan dagingnya melainkan pada hari itu kita akan memulai hari kita dengan hati yang bersih karena sudah saling memafkan bukan hanya lahir tapi mencakup aspek yg lebih dalam yakni batin.

Memaafkan kesalahan, kekhilafan dan pelanggaran secara lahir dan batin artinya melupakan semua dan tidak ada bekas menempel yang bisa diungkap kembali. Sebab, melupakan berarti membuang jauh dan bukan menyimpan dalam lemari arsip di hati kita. Kalau ada di arsip, bagaikan buku di perpustakaan hati kita, suatu saat bila kesalahan terulang akan muncul luka lama diungkapkan kembali. Karena, tidak dibuang, melainkan hanya disimpan walau dengan sangat rapi. Tidak heran ada ungkapan: To forgive is to forget. Buanglah jauh sejauh barat dari timur. Cuci bersih dari warna merah kirmizi menjadi putih seperti salju. Hasilnya, tidak ada arsip kotor di hati yang bersih.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Saya kan hanya seorang manusia dengan daging dan darah yang sering menuding dan penuh amarah?, sulit dan mustahil saya bisa memaafkan lahir dan batin. Kendati begitu, banyak pula orang yang dapat mengatakan: Sulit memang, tapi bukan berarti tidak mungkin. Ada harga yang harus dibayar. Dan harganya adalah pada diri kita sendiri bukan pada orang yang menyakiti kita. Maukah kita tersiksa karena tidak memaafkan yang dari kni ng lebih dartinya menyimpan virus kotor dalam hati kita? Tidak memaafkan orang akan memperburuk hubungan kita dengan orang itu, dan hubungan kita dengan Tuhan Sang Pencipta batin. Karena, virus kotor di batin akan mengganggu hubungan kita dengan Tuhan tatkala kita berdoa. Apalagi kalau kita mau minta ampun pada Ilahi, Dia akan tersenyum dan berkata: ?Jika engkau tidak mau mengampuni orang lain, kamu pun tidak akan diampuni.

Memaafkan bukan hanya secara lahir dan pikiran, tapi sudah masuk ke arena batin, sebuah ruang lingkup spiritual. Change of heart, bukan hanya memaafkan dalam arti mengubah perilaku lahir kita menjadi tidak memusuhi, atau membuang pikiran negatif dalam arsip perasaan. Melainkan, justru mempunyai sikap yang ingin membuat hubungan lebih dekat. Sebuah upaya dari musuh menjadi sahabat. Dari bukan hanya melupakan tapi mengasihi agar dia dapat berbuat lebih baik. Dari yang jauh menjadi dekat. Ini bukan hanya menuntut sikap moral, tapi menuntut sikap spiritual yang tinggi. Bukan hanya memaafkan, tapi mengampuni dan memintakan ampun dari Tuhan Yang Maha Esa dengan doa yang tulus: Tuhan, ampunilah dia karena dia tidak mengerti apa yang telah diperbuat. Dan buatlah saya mampu mengasihi dia seperti Engkau mengasihi dia. Jadikan saya saluran kasih-Mu. Mengampuni dan tetap mengampuni walaupun dia nanti akan berbuat kesalahan lagi. Sampai kapan? Tujuh puluh kali tujuh yang artinya tidak ada batasan selama kita juga masih mau dimaafkan dan diampuni oleh Tuhan Sang Pencipta. Sampai tahap ini saya kira kita akan melihat keindahan dan kejernihan tatkala kita dengan tulus mengucapkan ?maaf lahir dan batin? (sambil bergumam: Sudah saya maafkan kesalahan Anda dalam lahir dan batin saya lebih dulu). Kita sudah memulai sebelum yang lain meminta. Kalau sudah begini, segala bentuk kesombongan dan arogansi akan runtuh. Sebuah rekonsiliasi batin dan spiritual, membangun manusia seutuhnya akan terwujud. Selamat Lebaran, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

9/24/2007

Berdialog dengan diri sendiri

Seorang eksekutif sedang menunggu di depan pintu surga menunggu giliran untuk di wawancara. Setelah sekian lama menunggu akhrnya tibalah gilirannya untuk di wawancara

Siapa anda?? tanya malaikat penjaga pintu surga. Dengan penuh percaya diri sang eksekutif menjawab saya profesional yang sangat berhasil. Saya pernah menjadi direktur perusahaan multinasional.?

Aku tidak menanyakan pekerjaanmu, tetapi engkau itu siapa?? kata malaikat. Eksekutif itu menjawab dengan sedikit tergagap, Sa?sa?saya adalah ayah dari dua anak, dan suami dari seorang istri.? Malaikat berkata, ?Aku tidak menanyakan engkau ayahnya siapa, atau suaminya siapa. Yang aku tanyakan, engkau itu siapa??

Ia menyebutkan agamanya. Namun, malaikat menukas, ?Aku tidak menanyakan agamamu, tetapi engkau itu siapa?? Tambah bingung, ia menjawab, ?Saya ini orang yang taat beribadah. Saya juga selalu membantu fakir miskin dan anak-anak telantar.? ?Aku tidak menanyakan perbuatanmu, tetapi siapakah engkau,? malaikat menegaskan.

Wajah si eksekutif pucat pasi. Ia tahu, kegagalannya menjawab pertanyaan akan membuatnya ditolak masuk surga. Padahal, selama hidupnya ia tak pernah memikirkan hal ini. Ia baru sadar bahwa satu-satunya pertanyaan terpenting dalam hidup adalah, Siapakah sebenarnya saya??,--- Bukankah dengan mengenal diri sendiri kitapun akan lebih mengenali Tuhan?

Siapakah sebenarnya saya?, sebuah pertanyaan yg mungkin layak sahabat pertanyakan pada diri sendiri. Memang untuk mengenal diri sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah, anda harus bersiap untuk melakukan perjalanan panjang dan berliku untuk bisa masuk dalam diri sendiri .
Mumpung masih di bulan ramdhan ini saya ingin mengajak sahabat mencoba untuk mulai mengenali diri sendiri dengan jalan berdialog dengan diri sendiri--bukan bicara seperti orang gila, melainkan berdialog dengan penuh kesadaran dengan “yang di dalam”. Dengan berdialog dengan diri sendiri kita akan lebih mengenalnya dan mengakrabinya.

Layaknya berdialog dengan seseorang, kita harus siap untuk mendengarakan dan memperhatikan. Demikian pula dengan diri sendiri, kita hanya mungkin membuka dialog dengan diri sendiri bilamana kita mau dan mampu memperhatikan dan mendengarkan yang di dalam,-- yaa...diri kita sendiri. Kita tidak harus menjadi manut-manut saja padanya atau menuruti semua kehendaknya, melainkan cobalah perhatikan, amati dengan seksama, dengarkan dia dengan baik, dan —bilamana kita pandang perlu— tanyai dia dengan kritis.

Memang untuk bisa memperhatikan dan mendengarkan “yang di dalam” akan terasa berat karena kebiasaan kita yang senantiasa mengarahkan perhatian keluar sana. Kemampuan mengarahkan perhatian ke dalam, adalah modal dasar kita disini. Ini merupakan jurus kuncinya. Kendati sebetulnya ruang di dalam itu tanpa kunci, bahkan tanpa pintu dan senantiasa terbuka-lebar bagi kita. Namun pada fase-fase awalnya, dan karena kebiasaan kita sendiri, kita membutuhkan kunci untuk memasukinya. Dan kuncinya adalah, kemampuan untuk mengarahkan perhatian ke dalam. Sekali kita mempunyai kunci itu, dan berhasil mengadakan kontak langsung dengan yang di dalam, kita tak membutuhkan kunci itu lagi karena ia akan terbuka lebar-lebar bagi kita.

9/15/2007

Empat Istri Kehidupan

Alkisah seorang kaya raya yang baik hati dan memiliki empat isteri. Di suatu pagi orang kaya tadi didatangi oleh sang kematian. Dengan sopan mahluk terakhir berucap begini : Bapak yang baik hati, atas utusan Tuhan kami ditugaskan untuk menjemput. Cuman, karena kebaikan hati Bapak selama hidup, diizinkan oleh Tuhan untuk membawa satu di antara empat isteri Bapak. Dengan tersenyum orang kaya ini memohon waktu untuk menemui keempat isterinya satu persatu.

Yang pertama dipanggil tentu saja isteri keempat. Seorang wanita muda yang cantik, dengan tubuh yang menawan, rambut panjang yang terurai dan tentu saja senyumnya yang indah dan manis. Namun, betapa terkejutnya orang kaya tadi mendengar jawaban terhadap ajakan untuk menemani suaminya ke dunia kematian. Wanita cantik tadi menolak ajakan suaminya dengan kata-kata kasar dan sarkastis.

Setelah menangis sambil menyesali hidupnya, orang kaya tadi memanggil isteri ketiga dengan ajakan yang sama. Wanita ini menjawab dengan bahasa yang lebih sopan : maafkan kanda, saya hanya bisa menemani kanda sampai di sini saja. Kalau tadi seperti diterjang petir rasanya, kali ini Bapak kaya tadi seperti dihempas air bah. Lagi-lagi ia menangis menyesali seluruh hidupnya. Dengan semangat hampir putus asa, ia menemui isteri kedua dan mengemukakan ajakan yang sama. Isteri kedua menjawab lebih sopan lagi : Saya akan temani kanda, namun hanya sampai di liang lahat. Sehingga tidak ada pilihan lain kecuali memanggil isteri pertama. Dan takjubnya, kendati isteri pertama tidak terlalu diperhatikan, jarang diajak makan, bahkan sering disakiti, dengan tersenyum wanita yang pipinya sudah penyok dan merah-merah ini menjawab begini : saya akan menemani kanda sampai kapanpun dan sampai di manapun.

Ilustrasi tentang empat isteri di atas, sebenarnya ilustrasi tentang isteri/suami kehidupan. Semua orang memiliki empat isteri (suami) kehidupan. Isteri keempat yang paling seksi, paling menarik, menghabiskan paling banyak waktu, sehari-hari bernama harta dan tahta. Ia memang sejenis isteri yang menyita paling banyak waktu dan tenaga dalam hidup. Dalam kehidupan banyak orang, lebih dari separuh waktu dan tenaga teralokasi ke sini. Dan sebagaimana cerita di atas, siapa saja yang memperuntukkan waktu dan tenaga hanya untuk harta dan tahta, pasti menyesali kehidupannya di gerbang kematian.

Isteri ketiga yang juga mengkonsumsi waktu dan tenaga cukup banyak bernama tubuh atau badan kasar. Ini juga menghabiskan uang yang tidak sedikit. Dan jangan lupa, isteri yang ini hanya bisa menghantar kita sampai di tempat dan waktu di mana kita dipanggil sang kematian. Setelah itu, ia kita kembalikan ke pihak yang meminjamkan badan ini. Isteri kedua yang hanya bisa menghantar kita sampai di liang lahat adalah isteri, suami, putera-puteri serta kerabat dekat kita di rumah. Sesetia-setianya mereka, hanya akan bisa menemani kita sampai di kuburan saja. Setelah itu, mereka hanya menangis sambil kembali ke kehidupan masing-masing.

Dan isteri kita yang paling setia dan akan menemani kita kemanapun kita pergi, dan apapun yang kita lakukan terhadapnya ia hanya mengenal kesetiaan, kesetiaan dan kesetiaan, ia bernama sang jiwa. Atau, dalam sejumlah tradisi disebut dengan kata kesejatian.

Sayangnya, kendati ia yang paling setia, dalam keseharian ia juga yang paling jarang kita perhatikan. Dalam banyak kehidupan, ia malah kerap disakiti. Kebencian, kemarahan, permusuhan dan sejenisnya adalah serangkaian kegiatan yang memukuli sang jiwa. Kalau isteri kedua (badan kasar) kita beri makan setiap hari, kita hanya memberi makanan sang jiwa sekali-sekali saja. Ada bahkan yang tidak pernah memberikan makanan pada jiwanya. Dan kalau makanan badan kasar kita harus beli dan membayarnya, makanan sang jiwa dalam bentuk cinta, cinta dan cinta, ia tersedia gratis dalam jumlah yang tidak terbatas.

9/06/2007

Bulan untuk berbagi

Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang di muliakan oleh kaum muslimin karena semua amal ibadah kita di lipat gandakan. Banyak pesan ataupun hikmah yang bisa di ambil di bulan yang mulia ini. Salah satu pesan yakni pesan untuk berbagi.

Ramadhan memang serat dengan pesan untuk berbagi. Dompet dhuafa dan zakat dikumandangkan di mana mana. Berbagi berkat bagi yang merana dan papa dengan bingkisan beras, minyak dan mi instan. Ada pula yang dengan tangan terbuka mengajak kaum yatim piatu berbahagia di bulan yang khusus itu dengan berbuka puasa bersama. Ada pula yang justru mendatangi mereka, membagi hadiah dan berusaha meleburkan diri dalam kegiatan mereka. Ada pula yang membagi berkat dengan mentransfer sejumlah dana ke banyak rekening peduli kasih yang sudah jamak di media masa.

Kala bulan itu tiba, si miskin pun merasakan sentuhan kasih yang kaya. Golongan yang di pinggirkan merasa mendapat tempat di tengahan. Yang biasa di bentak-bentak mendadak mendapat belaian kasih.

Selamat datang Ramadhan!

9/04/2007

Kampanye: Jangan Bugil di depan kamera..!

Hampir setiap hari video porno baru diproduksi secara ilegal oleh anak muda indonesia dan hampir sebagian besar telah beredar melalui internet dan telpon genggam. Demikian hasil peneltian yang di lakukan oleh Sony Set penulis buku “500 pus, gelombang video porno Indonesia”. Menurutnya saat ini telah beredar lebih dari 500 judul buatan local dan 90% di buat oleh anak muda Indonesia.

Tidak dapat di pungkiri lagi, di masa sekarang, ada keprihatinan yang mendalam di balik fenomena seperti ini. Sebagai wujud kepedulian dari kondisi seperti ini, Sony Set bersama rekan melakukan kampanye bertajuk “Anak muda Indonesia jangan bugil di depan kamera..!!!”

Memang tidak mudah untuk menghentikan atau mengurangi peredaran dan pembuatan film porno amatir buatan anak bangsa. Namun bisa jadi gerakan moral ini merupakan salah satu alternatif yang patut untuk kita coba. Sebagai langkah awal dari kegiatan moral ini anda bisa mengajak teman dekat, sahabat, saudara, atau siapapun untuk berjanji agar tidak bugil di depan kamera.


Stop penyebaran dan pembuatan cuplikan film porno Indonesia. Selamatkan Generasi kita. Selamatkan Anak Muda Indonesia!


Sumber: http://www.janganbugildepankamera.org/
Sumber gambar: http://www.janganbugildepankamera.org/

8/23/2007

Berbuat baik ama orang untuk apa?

Mengapa kita harus berbuat baik dan mencintai orang lain?, Ya.. agar kita juga mendapatkan kebaikan dari orang lain.

Inilah paradigma yang paling banyak di anut oleh orang yang melakukan kebaikan. Kita melakukan kebaikan agar nantinya kita memperoleh kebaikan. Sebenarnya ngak salah sih.!!. Hanya saja bagi saya ini kok terdengar seperti berdagang dan sedikit meterelistis. Saya katakan seperti berdagang dan meterealistis..!!! karena kita melakukan kebaikan bukanlah untuk kebaikan itu sendiri. Melainkan demi keuntungan kita sendiri.

Nah... Pada coretan kali ini saya ingin mengajak para pembaca blog ini untuk menundukkan kepala, bukan untuk mencari recehan lho... melainkan untuk merenung!!!
Dalam hidup ini kita ini sudah terlalu banyak di bantu oleh Tuhan. Setiap detik kehidupan kita senantiasa di penuhi oleh cinta-Nya yang luar biasa? Bukankah kita telah diberi oleh-Nya pancaindra, berbagai kemudahan untuk bergerak, kemampuan berpikir, merasa, berjalan, berinteraksi? Bukankah karena cinta-Nya pula kita bisa menghirup udara yang segar setiap hari, menikmati alam semesta yang penuh warna, berbicara dan menikmati setiap tetes karunia-Nya?

Persoalanya sekarang adalah mampukah kita membalas semua kebaikan dan Cinta-Nya?. Saya kira kita tak mampu membalasnya dan Tuhanpun tahu bahwa kita tidak akan pernah mampu untuk membalas semua kebaikan dari-Nya. Karena ketidak mampuan kita untuk membalasnya, yang perlu kita lakukan adalah meneruskan cinta ini kepada orang lain. Jadi konsepnya kita membalasnya bukan kepada orang yang memberi kebaikan itu melainkan kepada orang lain
Karena itulah, kita perlu berbuat baik serta membagikan cinta dan kasih-Nya kepada sesama manusia. Dengan memiliki paradigma semacam itu, kita tidak akan merasa melakukan kebaikan sama sekali. Pandangan seperti ini hendak menjauhkan kita dari sikap sombong dan berpamrih.

Saya kira inilah tujuan kita hidup di dunia ini: membagikan cinta kita ke sesama. Dan inilah juga yang perlu kita hayati ketika kita sedang beribadah dan menyembah-Nya. Kita menyembah Dia bukanlah semata-mata untuk meminta sesuatu lagi dari-Nya. Kita menyembah-Nya karena rasa syukur yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kita menyembah-Nya karena sadar bahwa kita tak akan sanggup membalas semua kebaikan-Nya

Saya ingin menutup coretan kali ini dengan sebuah pepatah dari negeri bambu. Coba anda baca dan resapi pepatah sederhana ini.

Jika kau inginkan kebahagiaan
Untuk sejam - tidurlah selama itu.
Untuk sehari - pergilah memancing.
Untuk sebulan - menikahlah lagi.
Untuk setahun - warisi harta.
Untuk seumur hidup - tolonglah orang lain.

8/18/2007

kemeriahan di kota kecil itu

Di seluruh Nusantara, hari-hari menjelang peringatan puncak HUT Kemerdekaan RI selalu diisi dengan berbagai kemeriahan. Dalam memperingati dan merayakan kemerdekaan itu sudah menjadi tradisi kita untuk merayakan secara meriah oleh berbagai lapisan masyarakat dari rakyat biasa sampai pemerintah, dari anak-anak hingga orang dewasa. Kemeriahan pesta kemerdekaan selalu membawa suasana kegembiraan yang berlimpah. Kegembiraan itu diekspresikan melalui berbagai cara dan dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat.

Begitu pula di kota kacil kaimana ini. Kemeriahan sudah di mulai sejak tanggal 04 Agustus 2007, Lingkungan sekitar kota udah tampak di ramaikan dengan umbul-umbul dan berbagai macam perlombaan seperti Karauke, bola voli, Panjat pinang, gerak jalan dan karnaval. Lomba ini diikuti anak-anak, remaja, sampai orang tua.

Khusus untuk karnaval, lomba inilah puncak dari kemeriahan menyambut hari kemerdekaan. Antusiasme para peserta terlihat dari yel-yel dan semangat yang diberikan. Ekspresi dan tingkah para peserta terutama ketika mereka beraksi selalu mengundang gelak tawa dari para penonton. Ada yang sedang beraksi mempergakan bayi sehat ada pula yang lebih tragis memerankan wanita gantung diri



Meskipun saling berlomba namun nampaknya semua peserta tidak terlalu perduli menang atau tidak, yang penting adalah ikut berpartisipasi dan memeriahkan setiap kegiatan yang berlangsung. Karena memang kegiatan ini diharapkan dapat mempererat kekompakan diantara para masayarakat kota ini yang selalu disibukkan oleh kegiatan masing-masing.

8/16/2007

Ngakunya Sih Beragama...!!

Terkadang, kita harus di paksa untuk mengurut dada mendengar televisi, radio dan koran yang tak henti-hentinya memberitakan kasus seperti korupsi, pornografi dan narkoba. Padahal kalau dipikir-pikir apa sih kekurangan kita?. Kita ini shalat dan bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar? Kita berpuasa dan bukankah puasa mestinya menghasilkan manusia-manusia yang takwa? Jamaah haji kita yang terbesar di dunia, dan bukankah haji seharusnya melahirkan agen of change? Namun mengapa kita malah menjadi sarang korupsi, narkoba, dan pornografi?

Mungkin ada baiknya kita sedikit merenung dan introspeksi diri dalam memaknai agama. Dan setelah sedikit merenung, saya menemukan setidaknya ada dua kesalahan pokok dalama memaknai agama.

Pertama, Banyak orang yang beranggapan bahwa agama itu hanyalah “kewajiban” semata. Yang melakukannya akan dapat pahala dan masuk surga, sedangkan yang mengabaikan akan mendapatkan dosa dan masuk neraka. Padahal kata “kewajiban” memberikan konotasi paksaan kepada orang untuk melalukannya. Kewajiban bersifat outside-in (dari luar ke dalam).

Padahal perubahan perilaku jauh lebih mudah pada sesuatu yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Dalam inside-out orang melakukan sesuatu karena kesadaran. Dorongan terhadap hal ini berasal dari dalam. Jadi selama agama masih dianggap sebagai kewajiban bukannya kebutuhan, akan sangat sulitlah untuk berharap bahwa agama bisa mengubah perilaku.

Kedua, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan tanpa menghiraukan urusan dengan sesama. Padahal esensi agama itu adalah kasih. Bukankah dalam agama senantiasa di katakan, “Belum beriman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"?

Karena itu, orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya kepada sesama manusia. Sayangnya hal ini sering terlupakan.

Agar orang berubah kita harus dapat menyentuh kesadarannya. Dan untuk bisa menyentuh kesadaran kita harus mengalami sebuah pengalaman spiritual. Pengalaman spiritual inilah yang harus benar-benar kita nikmati dengan cara beribadah, menolong orang yang susah, melatih kesabaran serta rasa syukur, dan sebagainya.

8/10/2007

Cinta tak secengeng seperti yang kukira

“It's a touch when I feel bad, It's a smile when I get mad” yang dikatakan boyzone dalam lagunya yang berjudul Every Day I Love You. Itulah misteri dari cinta kadang kita dibuatnya tersenyum, kadang-kadang kita dibuatnya marah dan kadang pula kita di mabukkan dengan cinta .

Cinta memang bisa memabukkan bila tidak di bingkai dengan kedewasaan dan kearifan. Namun begitu ia berada dalam bingkai kedewasaan dan kearifan maka ia akan siap membawa kita pergi kemana saja dalam lautan kehidupan.

Dulu saya beranggapan bahwa cinta itu cengeng. Namun itu pendapat saya dahulu belakangan saya harus merevisi kembali pandangan itu bahwa cinta itu tak secengeng seperti yang kukira bahkan cinta memberikan sebuah kekuatan. Coba perhatikan orang yang sedang jatuh cinta. Disuruh ini--itu--dari lawan jenis yang di cintainya semuanya bisa dilakukan. Disuruh angkat gunungpun rasanya bisa .

Lihat saja bagaimana orang seperti Mahatma Gandhi yang kurus itu mampu mengusir tentara Inggris dari India kalau bukan karena kekuatan cinta. Lihat pula Jendral Sudirman dengan badan yg sakit-sakitan mampu memimpin pasukannya melawan belanda

Melihat efek kekuatan yang dahsyat ini banyak pula orang yang kemudian memanfaatkannya. Kaum agamawan menggunakan kekuatan cinta ini sebagai sarana untuk bertemu Tuhan. Ibu yang mencintai keluarganya mengabdikan seluruh tenaganya untuk mencintai anak dan suaminya.

Cinta adalah sebuah anugrah terbesar yang di berikan Tuhan pada kita. Karenanya tidak ada manusia yang tidak memiliki cinta. Mereka yang kehilangan cinta pada dasarnya orang yg memproteksi dirinya dari cahaya Ilahi. Cahaya itu bukannya tidak ada, cinta itu bukannya tidak berusaha masuk. Namun kitalah yang menghalanginya, kita pula yang mengunci hati kita dari cahaya itu dengan kebencian dan amarah.

8/09/2007

Ikut bernyanyi bersama sang ombak

Ada desiran angin sejuk yang masuk melalui pintu kehiduan ini ketika hendak duduk di teras rumah sambil di temani secangkir teh panas. Ombak dengan nyanyian sore hari dan matahari yang tersenyum (baca: Kaimana.. negeri senja), sepertinya hendak menyapa “selamat sore..!!”. Bagi sebagian sahabat, momentum seperti ini mungkin saja sebuah rutinitas keseharian yang tidak bermakna apa-apa

Namun bagi setiap tubuh yang dibekali cukup kepekaan, kejadian seperti ini hanyalah sebagian kecil saja contoh bagaimana sang kehidupan sedang menyapa. Tatkala melihat matahari yang hendak terbenam, awan yang dihiasi sinar emas di pinggirnya, bunga mekar di taman, pohon yang tumbuh subur, semuanya seperti mewakili suara-suara tertentu dari kehidupan. Mirip dengan taman, ada pojokan tertentu dari tubuh ini yang sejuk tersirami.

Ketika minum teh, jelas kalau tubuh inilah yang sedang di beri makan dan minum. Namun ketika "taman" di dalam sini tersirami oleh sapaan-sapaan tadi, bagian manakah dari diri ini yang sedang diberi makan? Sulit menjawabnya melalui rangkaian kata-kata.
Rasa, demikian banyak pencinta kejernihan bertutur. Rasa, ia adalah rangkain kepekaan yang hanya bisa diperoleh melalui ketekunan berjalan ke dalam diri.

Di tengah-tengah tatapan saya kepada layar laptop yang di bingkai nyanyian ombak di pinggir pantai, kadang saya mau bertanya kepada sang ombak, apa yang membuatmu bahagiah hingga hampir tiap hari bernyanyi?

Dan tetntu saja ombak akan pernah menghiraukan pertanyaan saya dan akan tetap bernyanyi, dan saya hanya punya satu pilihan yakni ikut bernyanyi bersama sang ombak.

8/07/2007

Kaimana.. Negeri Senja

Negeri senja mungkin saja hanya ada di sekumpulan cerpen ataupun hanya ada di imajinasi sebagian dari kita semua. Tapi seandainya saja anda berada di posisi saya saat ini anda akan mendapatkan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan!! tentang sebuah negeri senja, iya mimpi tentang negeri senja itu saya dapatkan hampir tiap sore di sebuah kota kecil di daerah papua .

Kaimana memang sebuah negeri senja. Langit sore dengan semburat srengenge dan jingga di mana-mana, ditambah dengan desiran ombak seakan melagukan nyanyian senja yang tak pernah berhenti mengingatkan saya untuk selalu ingat kebesaranNya.…Subhanallah….


Entah sampai kapan keindahan seperti ini dapat bertahan..!!

7/29/2007

Memberi maaf

Pernahkah seorang yang pernah menyakiti kita kemudian dengan entengya datang memohon maaf..?, kira2 jawaban anda apa.???, dimaafkan atokah ….??

Memberi maaf memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Tidak memaafkan seseorang berarti kita talah menyimpan virus kebencian di dalam hati kita. Anda pasti tahu apa yang diakibatkan oleh semua itu. Jangankan doa dan perjalanan menuju Tuhan, tubuh dan jiwa pun akan dikunjungi berbagai macam penyakit.. Wah..wah kalo udah begini tak ada pilihan lain selain belajar untuk memaafkan orang lain nih!!.

Coba saja bayangkan kita punya kesalahan pada teman, kemudian kita meminta maaf ama dia, eh.. malah dicuekin. Gimana rasanya?, pasti ngak enak?. Trus coba bayangkan pula seandainya di maafkan dengan tulus. Wah…. pasti rasanya ringan dan plong. Makanya, kita pun harus bisa memaafkan orang lain terutama teman dekat, dengan tulus dan lapang dada. Pasti teman kita itu akan merasakan kelegaan. Hubungan kita pun akan jadi lebih baik lagi.

Btw… Kamu tau ngak kalau kegiatan memaafkan itu bisa menyembuhkan orang yang dimaafkan dan orang yang rela memaafkan. Seperti baru saja meletakkan batu besar yang lama tergendong di bahu, demikian rasanya ketika kita rela memaafkan orang lain.

Memaafkan itu bukan hanya secara lahir dan fikiran, tapi harus sampe ke batin makanya di hari raya idul fitri nanti kalimat yang paling sering terdengar “Mohon maaf lahir dan batin”. Artinya, melupakan semua dan tidak ada bekas yang menempel. Melupakan berarti membuang jauh-jauh dan bukannya menaruh di “gudangnya” hati. Sebab kalau masih disimpan, suatu saat bila kesalahan terulang akan muncul luka lama yang diungkap kembali. Karena tidak di buang melainkan hanya di simpan.

Saya ingin menutup coretan kali ini dengan sebuah untaian kata yang sangat mencerahkan dari Ibu Theresa.
”Orang kerap tak bernalar, tak logis dan egois. Biarpun begitu, maafkanlah mereka.”

7/24/2007

Akhirnya Online lagi

Alhamdulillah...
Inilah kata yang paling tepat saya ucapkan pada saat ini. Maklumlah setelah situs pribadi saya yang beralamatkan di
http://www.mulus.110mb.com/ di block sepihak ama si empunya hosting (sebenarnya yg di block cuma databasenya). Penyebabnya hanya kerena pengelola hosting meminta bayaran sekitar $9.95 atas fasilitas tersebut. Padahal waktu mendaftar mereka katakan gratis
Berikut adalah tampilan situs si mulus sebelum di block:























Ah.. dari pada berlama-lama bersedih, mending cari tempat baru aja... dan akhirnya dapat juga (Walaupun masih gratisan jua). Moga-moga dengan tempat baru ini (blogspot.com) bisa dapat inspirasi baru, semangat baru, baju baru dan pacar baru

Walaupun udah dapat "rumah" baru tentunya tidak akan pernah lupa "rumah" lama. Akhirnya tiada kata yang pantas di ucapkan selain terima kasih ama 110mb.com yang udah memberi tumpangan hampir setahun (kira2 9 bulanan) walaupun pada akhirnya ku harus pergi meninggalkanmu dengan segala kenangan manis kita bersama (sok.. puitis).