10/27/2008

Wanita Bahenol Itu

Ada banyak alasan kenapa saya masih takut untuk masuk tempat dugem, salah satu alasannya adalah karena di situ penuh dengan wanita-wanita bahenol. Waduh, padahal membayangkan wanita, saya selalu teringat ibuku, tetapi di sana itu saya melhat wanita lain.

Tanpa alasan yang jelas wanita itu bisa demkian seksinya, demikian menggetarkan pakaiannya. Dan saya terguncang oleh kelemahanku sebagai manusia waras. Tak ada lelaki yang tak lemah mengadapi wanita, apalagi wanita cantik. Sudah cantik seksi pula. Sudah seksi "minim" lagi. Sudah minim nantang lagi. Padahal mereka hanya menantang untuk kemudian lari. Kiamat. Kiamat.!!!

Melihat wanita itu saya seperti melihhat uang hasil rampokan di depan mataku. Saya memang perlu uang, tetapi saya harus belajar takut untuk memakai uang yang bukan hak saya. Malangnya, uang-uang yang saya takutkan itu malah selalu mengitari diriku ini, mengikutiku kemanapun saya pergi. Wooo, pusiing..pusiing berat..!!

10/06/2008

Beribadah Sekaigus Berbuat Dosa

Banyak hal yang membuat haru hatiku saat lebaran tiba. Misalnya penjaga masjid di di daerah saya yang selalu menunda pulang mudiknya karena harus menyelengarakan bermacam-macam kegiatan. Mulai dari memimpin anak-anak takbir keliling kampung di malam hari sampai menyiapkan perlengkapan shalat Idul Fitri di esok hari. Maka ketika kampung telah sepi, ia masih harus mengepel lantai, menggulung karpet dan memunguti koran-koran bekas untuk alas shalat. Wahai koran bekas itu betapa banyaknya. Padahal jika setiap pembawa itu membawa kembali korannya, gunungan kotoran itu tak akan ada.

Ini bukan soal tradisi buang sampah sembarangan yang memang sudah termashur di Indonesia. Ini lebih menyangkut soal kelakuan kita yang membuat kenapa kerusakan tatanan di hampir semua lini itu terjadi. Penyakit boleh menyebar menjadi bemacam-macam versi, tapi sumbernya ternyata satu saja: diri sendiri.

Tapi beginilah tabiat kita ini, sambil beribadah pun bisa sekaligus berbuat dosa. Jelas sekali, kenapa ada jenis peribadatan yang rendah saja pengaruhnya bagi perbaikan kelakuan. Kita tetap di sini, seperti ini, tak ada yang berubah juga. Kita adalah pribadi yang sama dengan yang kemarin, yang berani menebar kekotoran tanpa berani membersihkan.

Prioritas kita terhadap diri sendiri ternyata masih luar biasa. Konsep membersihkan diri tanpa peduli kebersihan tetangga adalah hal yang biasa. Menjaga kebersihan mobil sendiri sambil membuang limbahnya ke mana saja, karenanya juga hal yang biasa. Akibatnya, yang bersih dan yang kotor, yang lebih dan yang kurang, di negeri ini memang bisa berdampingan dengan sangat kontrasnya.

Apalagi yang bisa diharap dari masyarakat yang hanya bisa memakai tanpa mau merawat, Sanggup mengotori tanpa sanggup membersihkan, hanya mau enak tapi enggan menanggung risikonya, hanya bisa mementingkan diri sambil mengabaikan kepentingan sekitarnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H, mohon maaf lahir dan batin.