Badai hidup memang tak pernah usai. Jangankan berkurang.! Intensitasnya akan semakin meningkat. Banjir siklus lima tahunan sudah menjadi tahunan. Harga sembilan bahan pokok yang mencekik muncul kembali. Gaung resesi ekonomi mulai terdengar lagi.
Jurus apa yang bisa menyiasati kehidupan dengan tekanan seperti itu? Hadapilah dengan senyum. "Don't worry be happy", begitulah kata sahabat saya yang mengutip dari salah satu iklan.
Anda mungkin masih ingat dengan senyuman khas mantan Presiden kita, Jenderal Besar Soeharto. Senyuman itu tak akan mudah dilupakan oleh siapa pun yang pernah melihatnya.
Saya bisa membayangkan kesulitan dan tantangan yang dihadapi sang Jenderal ketika menjadi presiden. Dimulai dari pemulihan kondisi keamanan yang serba semrawut, ekonomi yang amburadul, hingga birokrasi yang melempem. Bukan kegarangan yang ia perlihatkan di depan publik. Bukan kecemasan yang ia isyaratkan di depan para pembantunya. Ia menghiasi seluruh pemikirannya dengan senyum yang pas.
Menghadapi presiden dari mancanegara yang lebih cas-cis-cus dalam berbahasa, atau petani dalam Kelompencapir yang sederhana, ia tetap mengedepankan jurus “Smiling”. Jurus ini sangat mumpuni untuk menjembatani perbedaan yang tajam sekalipun.
Senyum memang tak menyelesaikan persoalan secara langsung, tapi dengan senyum, semua persoalan dibuat lebih ringan. Senyum mampu mengurangi gravitasi persoalan. Persoalan jadi lebih enteng melayang yang membuat kita mudah menguraikan dan menemukan jawabannya. Senyum membuka cakrawala harapan, menumbuhkan benih iman, dan mengelolanya bukan dengan kemarahan tapi kearifan kasih. Tersenyumlah, Pembaca
2/29/2008
2/14/2008
Hujan Cinta
Seorang sahabat mengirim sms kesaya.. isi smsnya sih sesuai dengan moment february (valentine) " Sudahkah anda menemukan cinta hari ini???", sebagai manusia yang masih mempunya pulsa..;-) tentunya saya membalas sms tersebut. Isi smsnya saya kutip dari kahlil gibran "Cinta itu bisa kita jumpai di mana-mana, tergantung pada siapa diri kita didalam"Apa yang ingin saya katakan kali ini adalalah -- Bahwa dari dulu kita ini sudah mengenal cinta.. Orangtua berpelukan penuh cinta ketika manusia dibikin. Disusui ibu penuh dengan pelukan cinta. Banyak ayah yang tidak jadi memasukkan makanan ke mulut hanya karena mau berbagi cinta dengan anak-anaknya. Makanan dan minuman manusia datang dari alam yang berlimpah cinta.
Tidak salah bila seorang sahabat pernah mengandaikan "kehidupan ini sebagai hujan cinta yang tidak pernah berhenti". Cuma sebagian memayungi dirinya dengan keangkuhan sehingga badannya kering dari hujan cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)