Badai hidup memang tak pernah usai. Jangankan berkurang.! Intensitasnya akan semakin meningkat. Banjir siklus lima tahunan sudah menjadi tahunan. Harga sembilan bahan pokok yang mencekik muncul kembali. Gaung resesi ekonomi mulai terdengar lagi.
Jurus apa yang bisa menyiasati kehidupan dengan tekanan seperti itu? Hadapilah dengan senyum. "Don't worry be happy", begitulah kata sahabat saya yang mengutip dari salah satu iklan.
Anda mungkin masih ingat dengan senyuman khas mantan Presiden kita, Jenderal Besar Soeharto. Senyuman itu tak akan mudah dilupakan oleh siapa pun yang pernah melihatnya.
Saya bisa membayangkan kesulitan dan tantangan yang dihadapi sang Jenderal ketika menjadi presiden. Dimulai dari pemulihan kondisi keamanan yang serba semrawut, ekonomi yang amburadul, hingga birokrasi yang melempem. Bukan kegarangan yang ia perlihatkan di depan publik. Bukan kecemasan yang ia isyaratkan di depan para pembantunya. Ia menghiasi seluruh pemikirannya dengan senyum yang pas.
Menghadapi presiden dari mancanegara yang lebih cas-cis-cus dalam berbahasa, atau petani dalam Kelompencapir yang sederhana, ia tetap mengedepankan jurus “Smiling”. Jurus ini sangat mumpuni untuk menjembatani perbedaan yang tajam sekalipun.
Senyum memang tak menyelesaikan persoalan secara langsung, tapi dengan senyum, semua persoalan dibuat lebih ringan. Senyum mampu mengurangi gravitasi persoalan. Persoalan jadi lebih enteng melayang yang membuat kita mudah menguraikan dan menemukan jawabannya. Senyum membuka cakrawala harapan, menumbuhkan benih iman, dan mengelolanya bukan dengan kemarahan tapi kearifan kasih. Tersenyumlah, Pembaca
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar