8/23/2007
Berbuat baik ama orang untuk apa?
Inilah paradigma yang paling banyak di anut oleh orang yang melakukan kebaikan. Kita melakukan kebaikan agar nantinya kita memperoleh kebaikan. Sebenarnya ngak salah sih.!!. Hanya saja bagi saya ini kok terdengar seperti berdagang dan sedikit meterelistis. Saya katakan seperti berdagang dan meterealistis..!!! karena kita melakukan kebaikan bukanlah untuk kebaikan itu sendiri. Melainkan demi keuntungan kita sendiri.
Nah... Pada coretan kali ini saya ingin mengajak para pembaca blog ini untuk menundukkan kepala, bukan untuk mencari recehan lho... melainkan untuk merenung!!!
Dalam hidup ini kita ini sudah terlalu banyak di bantu oleh Tuhan. Setiap detik kehidupan kita senantiasa di penuhi oleh cinta-Nya yang luar biasa? Bukankah kita telah diberi oleh-Nya pancaindra, berbagai kemudahan untuk bergerak, kemampuan berpikir, merasa, berjalan, berinteraksi? Bukankah karena cinta-Nya pula kita bisa menghirup udara yang segar setiap hari, menikmati alam semesta yang penuh warna, berbicara dan menikmati setiap tetes karunia-Nya?
Persoalanya sekarang adalah mampukah kita membalas semua kebaikan dan Cinta-Nya?. Saya kira kita tak mampu membalasnya dan Tuhanpun tahu bahwa kita tidak akan pernah mampu untuk membalas semua kebaikan dari-Nya. Karena ketidak mampuan kita untuk membalasnya, yang perlu kita lakukan adalah meneruskan cinta ini kepada orang lain. Jadi konsepnya kita membalasnya bukan kepada orang yang memberi kebaikan itu melainkan kepada orang lain
Karena itulah, kita perlu berbuat baik serta membagikan cinta dan kasih-Nya kepada sesama manusia. Dengan memiliki paradigma semacam itu, kita tidak akan merasa melakukan kebaikan sama sekali. Pandangan seperti ini hendak menjauhkan kita dari sikap sombong dan berpamrih.
Saya kira inilah tujuan kita hidup di dunia ini: membagikan cinta kita ke sesama. Dan inilah juga yang perlu kita hayati ketika kita sedang beribadah dan menyembah-Nya. Kita menyembah Dia bukanlah semata-mata untuk meminta sesuatu lagi dari-Nya. Kita menyembah-Nya karena rasa syukur yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kita menyembah-Nya karena sadar bahwa kita tak akan sanggup membalas semua kebaikan-Nya
Saya ingin menutup coretan kali ini dengan sebuah pepatah dari negeri bambu. Coba anda baca dan resapi pepatah sederhana ini.
Jika kau inginkan kebahagiaan
Untuk sejam - tidurlah selama itu.
Untuk sehari - pergilah memancing.
Untuk sebulan - menikahlah lagi.
Untuk setahun - warisi harta.
Untuk seumur hidup - tolonglah orang lain.
8/18/2007
kemeriahan di kota kecil itu

Di seluruh Nusantara, hari-hari menjelang peringatan puncak HUT
Begitu pula di
Khusus untuk karnaval, lomba inilah puncak dari kemeriahan menyambut hari kemerdekaan. Antusiasme para peserta terlihat dari yel-yel dan semangat yang diberikan. Ekspresi dan tingkah para peserta terutama ketika mereka beraksi selalu mengundang gelak tawa dari para penonton. Ada yang sedang beraksi mempergakan bayi sehat ada pula yang lebih tragis memerankan wanita gantung diri

Meskipun saling berlomba namun nampaknya semua peserta tidak terlalu perduli menang atau tidak, yang penting adalah ikut berpartisipasi dan memeriahkan setiap kegiatan yang berlangsung. Karena memang kegiatan ini diharapkan dapat mempererat kekompakan diantara para masayarakat kota ini yang selalu disibukkan oleh kegiatan masing-masing.
8/16/2007
Ngakunya Sih Beragama...!!
Terkadang, kita harus di paksa untuk mengurut dada mendengar televisi, radio dan koran yang tak henti-hentinya memberitakan kasus seperti korupsi, pornografi dan narkoba. Padahal kalau dipikir-pikir apa sih kekurangan kita?. Kita ini shalat dan bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar? Kita berpuasa dan bukankah puasa mestinya menghasilkan manusia-manusia yang takwa? Jamaah haji kita yang terbesar di dunia, dan bukankah haji seharusnya melahirkan agen of change? Namun mengapa kita malah menjadi sarang korupsi, narkoba, dan pornografi?
Mungkin ada baiknya kita sedikit merenung dan introspeksi diri dalam memaknai agama. Dan setelah sedikit merenung, saya menemukan setidaknya ada dua kesalahan pokok dalama memaknai agama.
Pertama, Banyak orang yang beranggapan bahwa agama itu hanyalah “kewajiban” semata. Yang melakukannya akan dapat pahala dan masuk surga, sedangkan yang mengabaikan akan mendapatkan dosa dan masuk neraka. Padahal kata “kewajiban” memberikan konotasi paksaan kepada orang untuk melalukannya. Kewajiban bersifat outside-in (dari luar ke dalam).
Padahal perubahan perilaku jauh lebih mudah pada sesuatu yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Dalam inside-out orang melakukan sesuatu karena kesadaran. Dorongan terhadap hal ini berasal dari dalam. Jadi selama agama masih dianggap sebagai kewajiban bukannya kebutuhan, akan sangat sulitlah untuk berharap bahwa agama bisa mengubah perilaku.
Kedua, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan tanpa menghiraukan urusan dengan sesama. Padahal esensi agama itu adalah kasih. Bukankah dalam agama senantiasa di katakan, “Belum beriman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"?
Karena itu, orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya kepada sesama manusia. Sayangnya hal ini sering terlupakan.
Agar orang berubah kita harus dapat menyentuh kesadarannya. Dan untuk bisa menyentuh kesadaran kita harus mengalami sebuah pengalaman spiritual. Pengalaman spiritual inilah yang harus benar-benar kita nikmati dengan cara beribadah, menolong orang yang susah, melatih kesabaran serta rasa syukur, dan sebagainya.
8/10/2007
Cinta tak secengeng seperti yang kukira
“It's a touch when I feel bad, It's a smile when I get mad” yang dikatakan boyzone dalam lagunya yang berjudul Every Day I Love You. Itulah misteri dari cinta kadang kita dibuatnya tersenyum, kadang-kadang kita dibuatnya marah dan kadang pula kita di mabukkan dengan cinta . Cinta memang bisa memabukkan bila tidak di bingkai dengan kedewasaan dan kearifan. Namun begitu ia berada dalam bingkai kedewasaan dan kearifan maka ia akan siap membawa kita pergi kemana saja dalam lautan kehidupan.
Dulu saya beranggapan bahwa cinta itu cengeng. Namun itu pendapat saya dahulu belakangan saya harus merevisi kembali pandangan itu bahwa cinta itu tak secengeng seperti yang kukira bahkan cinta memberikan sebuah kekuatan. Coba perhatikan orang yang sedang jatuh cinta. Disuruh ini--itu--dari lawan jenis yang di cintainya semuanya bisa dilakukan. Disuruh angkat gunungpun rasanya bisa .
Lihat saja bagaimana orang seperti Mahatma Gandhi yang kurus itu mampu mengusir tentara Inggris dari India kalau bukan karena kekuatan cinta. Lihat pula Jendral Sudirman dengan badan yg sakit-sakitan mampu memimpin pasukannya melawan belanda
Melihat efek kekuatan yang dahsyat ini banyak pula orang yang kemudian memanfaatkannya. Kaum agamawan menggunakan kekuatan cinta ini sebagai sarana untuk bertemu Tuhan. Ibu yang mencintai keluarganya mengabdikan seluruh tenaganya untuk mencintai anak dan suaminya.
Cinta adalah sebuah anugrah terbesar yang di berikan Tuhan pada kita. Karenanya tidak ada manusia yang tidak memiliki cinta. Mereka yang kehilangan cinta pada dasarnya orang yg memproteksi dirinya dari cahaya Ilahi. Cahaya itu bukannya tidak ada, cinta itu bukannya tidak berusaha masuk. Namun kitalah yang menghalanginya, kita pula yang mengunci hati kita dari cahaya itu dengan kebencian dan amarah.
8/09/2007
Ikut bernyanyi bersama sang ombak
Ada desiran angin sejuk yang masuk melalui pintu kehiduan ini ketika hendak duduk di teras rumah sambil di temani secangkir teh panas. Ombak dengan nyanyian sore hari dan matahari yang tersenyum (baca: Kaimana.. negeri senja), sepertinya hendak menyapa “selamat sore..!!”. Bagi sebagian sahabat, momentum seperti ini mungkin saja sebuah rutinitas keseharian yang tidak bermakna apa-apaNamun bagi setiap tubuh yang dibekali cukup kepekaan, kejadian seperti ini hanyalah sebagian kecil saja contoh bagaimana sang kehidupan sedang menyapa. Tatkala melihat matahari yang hendak terbenam, awan yang dihiasi sinar emas di pinggirnya, bunga mekar di taman, pohon yang tumbuh subur, semuanya seperti mewakili suara-suara tertentu dari kehidupan. Mirip dengan taman, ada pojokan tertentu dari tubuh ini yang sejuk tersirami.
Ketika minum teh, jelas kalau tubuh inilah yang sedang di beri makan dan minum. Namun ketika "taman" di dalam sini tersirami oleh sapaan-sapaan tadi, bagian manakah dari diri ini yang sedang diberi makan? Sulit menjawabnya melalui rangkaian kata-kata.
Rasa, demikian banyak pencinta kejernihan bertutur. Rasa, ia adalah rangkain kepekaan yang hanya bisa diperoleh melalui ketekunan berjalan ke dalam diri.
Di tengah-tengah tatapan saya kepada layar laptop yang di bingkai nyanyian ombak di pinggir pantai, kadang saya mau bertanya kepada sang ombak, apa yang membuatmu bahagiah hingga hampir tiap hari bernyanyi?
8/07/2007
Kaimana.. Negeri Senja
Negeri senja mungkin saja hanya ada di sekumpulan cerpen ataupun hanya ada di imajinasi sebagian dari kita semua. Tapi seandainya saja anda berada di posisi saya saat ini anda akan mendapatkan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan!! tentang sebuah negeri senja, iya mimpi tentang negeri senja itu saya dapatkan hampir tiap sore di sebuah kota kecil di daerah papua .Kaimana memang sebuah negeri senja. Langit sore dengan semburat srengenge dan jingga di mana-mana, ditambah dengan desiran ombak seakan melagukan nyanyian senja yang tak pernah berhenti mengingatkan saya untuk selalu ingat kebesaranNya.…Subhanallah….
Entah sampai kapan keindahan seperti ini dapat bertahan..!!