8/16/2007

Ngakunya Sih Beragama...!!

Terkadang, kita harus di paksa untuk mengurut dada mendengar televisi, radio dan koran yang tak henti-hentinya memberitakan kasus seperti korupsi, pornografi dan narkoba. Padahal kalau dipikir-pikir apa sih kekurangan kita?. Kita ini shalat dan bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar? Kita berpuasa dan bukankah puasa mestinya menghasilkan manusia-manusia yang takwa? Jamaah haji kita yang terbesar di dunia, dan bukankah haji seharusnya melahirkan agen of change? Namun mengapa kita malah menjadi sarang korupsi, narkoba, dan pornografi?

Mungkin ada baiknya kita sedikit merenung dan introspeksi diri dalam memaknai agama. Dan setelah sedikit merenung, saya menemukan setidaknya ada dua kesalahan pokok dalama memaknai agama.

Pertama, Banyak orang yang beranggapan bahwa agama itu hanyalah “kewajiban” semata. Yang melakukannya akan dapat pahala dan masuk surga, sedangkan yang mengabaikan akan mendapatkan dosa dan masuk neraka. Padahal kata “kewajiban” memberikan konotasi paksaan kepada orang untuk melalukannya. Kewajiban bersifat outside-in (dari luar ke dalam).

Padahal perubahan perilaku jauh lebih mudah pada sesuatu yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Dalam inside-out orang melakukan sesuatu karena kesadaran. Dorongan terhadap hal ini berasal dari dalam. Jadi selama agama masih dianggap sebagai kewajiban bukannya kebutuhan, akan sangat sulitlah untuk berharap bahwa agama bisa mengubah perilaku.

Kedua, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan tanpa menghiraukan urusan dengan sesama. Padahal esensi agama itu adalah kasih. Bukankah dalam agama senantiasa di katakan, “Belum beriman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"?

Karena itu, orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya kepada sesama manusia. Sayangnya hal ini sering terlupakan.

Agar orang berubah kita harus dapat menyentuh kesadarannya. Dan untuk bisa menyentuh kesadaran kita harus mengalami sebuah pengalaman spiritual. Pengalaman spiritual inilah yang harus benar-benar kita nikmati dengan cara beribadah, menolong orang yang susah, melatih kesabaran serta rasa syukur, dan sebagainya.

Tidak ada komentar: