8/09/2007

Ikut bernyanyi bersama sang ombak

Ada desiran angin sejuk yang masuk melalui pintu kehiduan ini ketika hendak duduk di teras rumah sambil di temani secangkir teh panas. Ombak dengan nyanyian sore hari dan matahari yang tersenyum (baca: Kaimana.. negeri senja), sepertinya hendak menyapa “selamat sore..!!”. Bagi sebagian sahabat, momentum seperti ini mungkin saja sebuah rutinitas keseharian yang tidak bermakna apa-apa

Namun bagi setiap tubuh yang dibekali cukup kepekaan, kejadian seperti ini hanyalah sebagian kecil saja contoh bagaimana sang kehidupan sedang menyapa. Tatkala melihat matahari yang hendak terbenam, awan yang dihiasi sinar emas di pinggirnya, bunga mekar di taman, pohon yang tumbuh subur, semuanya seperti mewakili suara-suara tertentu dari kehidupan. Mirip dengan taman, ada pojokan tertentu dari tubuh ini yang sejuk tersirami.

Ketika minum teh, jelas kalau tubuh inilah yang sedang di beri makan dan minum. Namun ketika "taman" di dalam sini tersirami oleh sapaan-sapaan tadi, bagian manakah dari diri ini yang sedang diberi makan? Sulit menjawabnya melalui rangkaian kata-kata.
Rasa, demikian banyak pencinta kejernihan bertutur. Rasa, ia adalah rangkain kepekaan yang hanya bisa diperoleh melalui ketekunan berjalan ke dalam diri.

Di tengah-tengah tatapan saya kepada layar laptop yang di bingkai nyanyian ombak di pinggir pantai, kadang saya mau bertanya kepada sang ombak, apa yang membuatmu bahagiah hingga hampir tiap hari bernyanyi?

Dan tetntu saja ombak akan pernah menghiraukan pertanyaan saya dan akan tetap bernyanyi, dan saya hanya punya satu pilihan yakni ikut bernyanyi bersama sang ombak.

Tidak ada komentar: