Sebuah paket terbungkus kertas warna merah muda, dengan sedikit rasa penasaran saya membuka paket tersebut. Sebuah buku berjudul The Prophet karya kahlil gibran. Mata saya menatap tulisan "Happy Friendship!! from Anya" Sebaris kalimat menyusul di bawahnya yang di lengkapi dengan foto kami ketika masih kanak-kanak dulu:"Whenever I'm down/I call on you my friend/A helping hand you lend/In my time of need"
Untuk Sekejap saya tercenung. Sudah sekian tahun saya merasa tak lagi memegang "obor" pertemanan. Padahal, hakikat pertemanan adalah membangun pertalian batin yang semestinya menjadi perekat makna berteman sendiri.
Anya adalah seorang sahabat yang ngakunya bukan pekerja keras (walaupun kerjaanya sampe ke negeri orang). “I don't work hard, I work smart. And I simply love to work,” ujarnya. “Kerja memang sebuah irama lagu. Dan lagu sejatinya adalah untaian kerja,” sambungnya. Buku The Prophet karya Kahlil Gibran memang buku yang sangat ingin saya beli ketika masih di sekolahan dulu. Sampai saat ini saya belum sempat membelinya. Namun, saya masih cukup ingat beberapa ungkapan penyair Lebanon ini yang dialihbahasakan oleh Sri Kusdyantinah terbitan Pustaka Jaya, Jakarta. Dalam versi terjemahan Sri Kusdyantinah, saya dapat menemukan kalimat berikut ini: Kerja adalah cinta yang mengejawantah/Bilamana kau menggerutu ketika memeras anggur/ Gerutu itu meracuni air anggur/Dan walaupun kau menyanyi dengan suara bidadari/Namun hatimu tiada menyukainya/Maka tertutuplah telinga manusia dari segala/ Bunyi-bunyian siang dan suara malam hari.
Olah cinta dalam kerja dan olah kerja dalam lagu memang sebuah harmoni kehidupan. “You play piano, guitar, or whatever?” tanya Anya dalam chating kami. “Saya senang dengan suara seruling tapi tdk bisa memainkannya, a home-made bamboo flute,” jawab saya. Anya lalu mengutip bait yang “memerankan” seruling. Lewat Kusdyantinah, Gibran berkata, “Bila bekerja, engkau ibarat sepucuk seruling/Lewat jantungnya bisikan sang waktu menjadi lagu.” Di malam yang makin larut, ada dua hati yang terasa didekatkan oleh satunya minat: saling rela mendengar dan mendengarkan, dan berbagi rasa mensyukuri harmoni kerja dan kehidupan. Alangkah indahnya persahabatan.
Untuk sahabatku Anya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar