7/31/2008

Mari Menjadi Manusia "Gaib"

Momen ketika manusia tersenyum merupakan moment paling misterius dan multitafsir. Anda akan lebih muda menebak manusia yang sedang menekuk muka ketimbang menebak orang yang sedang tersenyum (baca:Senyum..! bikin hidup lebih bermakna) . Dalam hal ini saya tidak sedang membicarakan senyum dalam kaitan dengan kegembiraan atay semacamnya. Senyum yang masih mewakili perasaan masih gampang di tebak dan di rumuskan.

Senyum yang saya maksudkan kali ini tidak mewakili apa dan siapa, dalam artian senyuman yang tidak terjerat sebagai apa dan siapa. Kalau ada manusia yang sudah memakai rumus ini ia akan segera menjadi manusia "gaib" dan serba tak tertebak. Anda akan sangat sulit menebak apakah dia sedang punya duit atau tidak, sedang banyak utang atau tidak.

Perjalanan untuk menuju titik ini tidaklah mudah, anda harus melewati marah, panik, gelisah yang begitu rumit. Cobalah anda memandang di sekeliling anda. Anda pasti sering melihat, betapa makin tua umur seseorang, kian gampang ia diam, mendengar, berkata secukupnya dan mulai banyak senyum.

Banyak orangtua yang saat mudanya hanya mau berkata, di dengar dan di perhatikan. Namun setelah itu, dia merasakan enaknya diam, mendengar dan memperhatikan. Pada saat itulah manusia mulai dekat dengan senyumnya.

Tidak ada komentar: