Untuk urusan jatuh cinta saya juga bisa di golongkan sebagai orang yang berpengalaman ;-). Kuliah di kampus yang terkenal dengan wanita cantiknya. apalagi posisi saya pada saat kuliah adalah yang seorang asisten dosen di lab yang mendampingi mahasiswa di lab. Karenanya hampir setiap saat saya bisa saja jatuh cinta: Kadang jatuh cinta pada teman seangkatan, kadang yang beda angkatan dan kadang pula beda jurusan. Rasanya saat itu kemanapun mata memandang yang terlihat adalah kawa-kawan kuliah yang cantik. Dan syukyurlah, di antara semua teman yang saya taksir itu tidak ada satupun yang menjadi pacar saya.Macam-macam saja alasannya, tapi terbesar adalah karena saya sendiri penyebabnya. Tegasnya, saya memang cuma asyik jatuh cinta tetapi tidak terlalu bernafsu untuk pacaran karena pasti ditolaknya. Rasa percaya diri ditolak inilah yang membuat saya malah merasa bebas. Bebas jatuh cinta kepada siapa saja dan bebas putus kapan saja saya mau, tanpa perlu pihak yang saya taksir itu membalas atau malah sekadar tahu.
Saya pernah naksir seorang teman yang begitu cantiknya sehingga kalau saya maju terus pasti tidak kebagian. Dan benar, seluruh dari kami, mahisiwa paling top pun terpaksa harus gigit jari, karena kecantikan yang keterlaluan seperti itu tidak cocok bagi kelas mahasiswa yang payah modalnya. Dari awal saya sudah mengerti kemungkinan ini, maka untuk apa berdarah-darah atas sesuatu yang saya tahu ia bukan jatah saya. Tetapi untuk menjadi pacar bagi imajinasi, saya bebas pacaran sesuka hati dengan teman ini. Persis seperti Ebiet G Ade bercinta dengan Camellia. Itu sebuah percintaan yang menurut saya dahsyat sekali. Dari pandangan pertama sampai Camellia masuk liang lahat, ternyata belum sekalipun Ebiet pernah menjumpai. Apakah Ebiet menjadi gila karenanya? Tidak. Ia sehat sekali, waras sekali dan malah suskes sekali. Karena energi jatuh cinta itu, jika cerdik cara mengelolanya memang luar biasa.
Di dalam perasana jatuh cinta itu, semuanya menjadi penuh sensasi. Melihat mega-mega berarak, seperti melihat puisi. Melihat jemuran berkelebat seperti melihat burung-burung berterbangan di atas sawah. Melihat rinai hujan, seperti melihat air mata peri-peri cantik berjatuhan. Tak ada yang tidak indah ketika saya jatuh cinta. Sesumbang apapun suara ini, bawaannya melulu ingin beryanyi. Sepayah apapun tampang saya, rasanya ingin selalu berkaca. Jadi jika begini besar efek jatuh cinta dalam mendatangkan keindahan, kenapa saya tidak jatuh cinta setiap hari saja? Maka saat itu, saya merdeka untuk jatuh cinta setiap kali tanpa takut patah hati. Jatuh cinta semacam ini ternyata hemat sekali; tidak harus kehilangan ongkos nonton bareng, makan bareng, dan tidak perlu repot-repot bertengkar segala. Padahal ongkos pertengkaran itu, ongkos mental terutama, besar sekali!.
Dalam keadaan jatuh cinta versi saya ini, yang ada cuma keinginan bernyanyi . Barnyanyi saat jatuh cinta itu luar biasa menggelegak walaupun saya tau suara ini tak semerdu ariel peterpan. Betapa hati akan melulu dipenuhi kegembiraan cinta. Dan hati yang penuh cinta akan melihat apa saja, tiba-tiba dengan perasaan cinta. Berkarya apa saja jadi penuh semangat cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar